Penjara...!
bagi kebanyakan orang adalah tempat yang menakutkan.
Benarkah
penjara adalah tempat yang menakutkan bagi manusia? Mengerikan dan hal yang menakutkan,
mungkin kata yang terlontar dari lisan kita ketika mendengar istilah penjara.
Penjara merupakan ruang tertutup pagar tembok yang kokoh dan kuat, berpintu
jeruji besi baja yang anti karat, tempatnya orang-orang yang kejam, sadis,
nakal, jahat, dan komunitas kaum preman. Anggapan seperti itu memang benar.
Penjara
selama ini memang identik dengan menyeramkan, suram, dan tiada harapan. Begitu
mendengar kata penjara yang terlintas di kepala adalah tempat yang kotor,
kumuh, dan diisi oleh berbagai pangkat dalam dunia kriminalitas. Mulai dari
pencuri sandal, pembunuh bayaran, bromocorah, sampai koruptor berdiam disana.
Sipir-sipir yang menjaga pun angker, bengis dan tak kenal kasihan. Sungguh
“penjara” berada didaftar terakhir tempat yang ingin ditinggali.
Sebenarnya
orang-orang yang terpenjara itu tidak ada perbedaan dengan manusia bebas di
luar penjara. Mereka tidak menakutkan, mereka hanya orang orang yang berbuat
salah, yang menebus kesalahannya menjalani hukuman di balik jeruji. Bahkan
banyak orang-orang yang terpenjara tidak berbuat salah, namun karena menjadi korban
dari sebuah “konspirasi” yang masiv, terstruktur dan terukur bahkan mungkin
menjadi korban dari sebuah fitnah membuat mereka merasakan “pahit”nya kehidupan
di penjara. Tapi apapun dan siapapun mereka tetaplah seseorang yang berjuang
menjalani proses kehidupan yang diberikan Tuhan, sama seperti dengan semua
orang yang hidup diluar dinding penjara.
Mereka yang
didalam penjara sana adalah manusia yang juga mempunyai keinginan, dan cita
cita jika mereka bebas dan kembali ke masyrakat, untuk berkarya dan memulai
kehidupan baru. Siapakah diantara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan,
hanya tergantung besar kecilnya kesalahan yang kita perbuat. Walau badan para
orang-orang terpenjara berada dalam jeruji besi tetapi semangat, imajinasi dan
kreativitas tidak akan pernah dapat terkekang. Tubuh mereka boleh terkurung
didalam penjara, namun inspirasi, kreasi dan imajinasi mereka tidak boleh ikut
terkurung. Mereka bak seekor katak yang berjuang menembus tempurung.
Penjara
bukanlah sebuah tempat yang mengerikan, apapun bisa tercipta dari tangan
orang-orang yang terpenjara.
Bahkan mampu mengalahkan orang-orang yang bebas menghirup udara dengan leluasa
diluar dinding penjara. Semangat mereka untuk tetap hidup dan membangkitkan
jiwa yang sedang dalam keadaan “titik nadir”.
Selama ini,
anggapan masyarakat terhadap “lulusan penjara” sangat negatif. Mereka tidak
dihargai, tidak mendapat kepercayaan dan tidak diberi kesempatan untuk
berkarya. Akibatnya, mantan-mantan napi tersebut tidak memiliki pilihan lain
selain melanggar hukum lagi dan akhirnya dikirim kembali ke penjara. Sebuah
lingkaran setan pada masyarakat kita yang sangat memprihatinkan.
Orang berbuat salah tak selamanya berbuat salah. Kesalahan
bias menjadi terapi ampuh untuk menjadikan seseorang insyaf. Tidak ada manusia
yang bisa luput dari kesalahan. Yang membedakannya mungkin berat ringannya
kesalahan itu sendiri. Tentunya, selalu akan ada jalan menuju kebaikan maka ada
jalan pula untuk mendapatkan kesempatan berbuat baik terhadap sesama. Demikian
juga tak terkecuali dengan Narapidana.
Namun, yang
terpenting untuk tidak dilupakan ialah adanya gemerlap cahaya dibalik jeruji
penjara itu yang bila kita asah akan menjadi berlian yang mempesona. Banyak
contoh orang-orang besar yang lahir dari balik jeruji, mulai dari Ibnu Taimiyyah, Yusuf Al Qaradhawi,
Soekarno, Recep Tayyip Erdogan, Syekh Ahmad Yasin, Tan Malaka, Buya Hamka, Omer
Goldman, Nelson Mandela, Nawal El Saadawi, Galileo Galilei, Adolf Hitler,
Sayyid Qutub, Malcom X, Saddam Husein, Muhammad Mursi, Martin Luther King Jr.,
Aung San Suu Kyi, Leon Trotsky, Benazir Bhutto, Liu Xiobo, Tawakul Karman,
Muhandas (Mahatma) Gandhi, Andrei Sakharov, Vaclav Havel, Akbar Ganji, Beningno
Aquino Jr, Ho Chi Minh, Abdul Fattah Ismail, Muhammad Farghali, Nick Leeson,
Jose Mujica, Mike Tyson, Ali Syari’ati, Voltaire dan masih banyak tokoh
lainnya.
Setidaknya
ada dua pelajaran yang dapat kita ambil.
Pertama,
bahwa penjara dengan segala stereotip buruknya, ternyata tidak seseram yang
kita bayangkan. penjara tidaklah seburuk yang kelihatan dari luar. Penjara
memang membatasi gerak warga binaannya, namun perlakuan yang diterima napi ini
sungguh sangat kekeluargaan.
Pelajaran
kedua, yakni kesadaran bahwa kebebasan merupakan nikmat Tuhan yang tak
terhingga besarnya. Berubahnya pola kehidupan para napi yang biasanya bebas
pergi kemanapun, menjadi terkungkung dalam tembok-tembok tinggi dan diawasi,
membuat kita merasa perlu banyak-banyak bersyukur kepada-Nya.
Sekarang
waktunya menjadikan penjara sebagai tempat yang tidak ubahnya seperti tempat
menempa diri yang tujuannya untuk mengubah pandangan masyarakat tentang
penjara, napi dan lulusannya, serta menebalkan rasa optimis pada diri napi agar
jangan terlalu mengutuki dosa-dosanya.
Tiada hari senin, selasa, rabu, kamis,
jum’at, sabtu dan minggu. Yang ada hanyalah siang, malam, dan siang, dan malam,
dan siang lagi, dan malam lagi. Depend On You...mengisi hari dengan merenungi
nasib atau mengisinya dengan HARAPAN bahwa Tuhan itu Maha segalanya. Segelap
apapun masa lalu kita, Tuhan selalu memberikan lembaran baru yang bersih untuk
kita tulis dalam buku kehidupan. Jatuh berdiri lagi, Kalah mencoba lagi, Gagal bangkit
lagi. NEVER LOSE HOPE & NEVER GIVE UP...! sampai Tuhan berkata
:"WAKTUNYA PULANG."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar